; Teruntukmu puan, Izinkan saya menyampaikan beberapa hal, perihal kecemasan di dada seorang perempuan. Ketika masa lalu ialah jarum jam yang tak mampu kau putar ulang. Di mana tak hanya sekali kau berputar arah, sebelum segala menjadi apa yang tak ingin kau sesalkan sekarang. Tak mudah, tak pernah dan tak akan pernah mudah untukmu, wahai puan, namun kau ialah perempuan yang begitu pandai menyulam sabar. Di sepanjang jalan yang kau sinari melalui doa, kau selalu percaya, bahwa Tuhan tak mungkin mematahkan langkah tanpa ingin membuat hambaNya belajar. Puan, Tahukah kau berapa banyak musim yang saya lewati, hanya untuk memahami? Ketika inginmu ialah petaka bagi masing-masing; menjadikan kita semakin asing. Meskipun kita terlahir dalam satu takdir, terkadang, kepadamulah puan, segala amarah saya berotasi. Maafkan, jika kata maaf tak pernah bertamu di lidah saya. Maafkan, jika hanya goresan yang gemar saya toreh di dadamu, puan. M...